Sekmentasi

Posted on Februari 17, 2007. Filed under: Press Rilis |

24 November 2006 semarang EGA MARJUKI

Sekmentasi

INDONESIA, negeri kita tercinta. Sejak 1998, reformasi di teriakkan baik secara lantang maupun samara-samar namun yang dinanti bangsa ini tak juga kunjung datang. Mungkin benar, bahwa reformasi hanyalah sebuah kata yang mungkin tak bermakna bagi kita, bagimu mungkin juga bagiku. Bagaimanapun proses itu telah dimulai dan orang banyak yang sepakat dengan istilah reformasi. Sampai-sampai pintu toko di coret dengan tulisan Proreformasi, biar aman dari amukan masa yang sedang kalap dan kerasukan roh gentangan reformasi. Naïf mungkin, orang banyak teriak berjuang, hidup reformasi atau apa saja yang berbau reformasi adalah bagai bau masakan yang begitu lezat hingga kita lupa, dimana masakan sumber bau lezat itu berada. Karena kita begitu girang, menari-nari, mabuk kepayang, terjengkang, menangis, merintih bahkan tak mampu lagi menahan kenikmatan dan kelezatan bau reformasi yang sampai sekarang belum juga dihidangkan kepada kita bangsa Indonesia.

Kemanakah harus kita cari kue reformasi itu? (kalau itu memang benar adanya) atau kita melupakan sejenak, berpikir dan memahami apa yang seharusnya kita lakukan untuk menata hidup kita, mencoba lebih santai, mencoba untuk rileks sejenak. Kita sadar dari mabuk reformasi. Apa itu reformasi? Kemana kita harus kembali? Apakah ada jaminan kalau kita kembali kita akan lebih sejahtera, lebih rileks, lebih nyaman dan aman. Akankah kita tetap berebut bau reformasi yang tak kunjung datang kue yang seharusnya mengenyangkan perut bangsa kita yang sedang kelaparan. Kelaparan dari rasa syukur di negeri yang kaya tetapi bangsa ini tetap merasa dan memang miskin, miskin harta, miskin ilmu, miskin wawasan, miskin rasa toleransi, miskin kebersamaan, miskin pemerintah yang adil dan bijak, miskin lebih miskin dari kata miskin.

Akankah kita tetap saja begini? Sanggupkah kita memberi arti pada ibu pertiwi? Sanggupkah kita mewariskan yang seharusnya menjadi hak anak cucu kita. Kekayaan alam INDONESIA yang begitu melimpah hingga dalam syairnya sunan Ampel dinyatakan bahwa INDONESIA adalah tenggalan surga seakan surga pernah bocor di negeri yang bernama INDONESIA. Sumber daya budaya dan bukti intelektualitas pendahulu-pendahulu kita begitu manakjubkan hingga kita mabuk oleh ketakjubannya hingga sumber daya itu telah dibawa lari bangsa lain kita tetap saja tersenyum dalam ketidaksadaran. Letak yang begitu strategis INDONESIA, kenapa sampai sekarang kita tetap saja tak mau memandang bangwa negeri kita ini dengan diampun orang akan menghampirinya bagai sang putri jelita memikat perjaka. Masihkah kita merasa bahwa bangsa ini merupakan bangsa yang terpinggirkan? Padahal kita berdiri diantara hamparan benua Asia dan Australia, kita berbaring diantara samudra INDONESIA dan samudra pasifik. INDONESIA terlalu kaya untuk ditulis dilembaran sekecil ini bukan?

Kekayaan, kemiskinan, angkatan kerja tak kerja, pemerintahan, bangsa, kebodohan, keterbelakangan, kemodernan, bahkan globalisasi semua masih kita permasalahkan dan memang masih menjadi masalah bangsa INDONESIA. Kemana harus mengadu? Telah lama kita melupakan ibu pertiwi. Kemanakah kita harus berharap, sedangkan kita berdiri di atas tanah harapan itu sendiri. kemanakah menghalau dahaga mimpi kemakmuran di negeri yang diberkahi ini. Kemana harus kita cari sesuatu yang tak pernah hilang, sesuatu yang masih dalam genggaman tangan kita sendiri. Kemana harus kita arahkan pandangan kita untuk menemukan sesuatu yang ada dihadapan kita. Bagaimana hati ini tak kan pilu merasakan sayatan kemiskinan diatas negeri korun ini.

Bangsa ini tidak hanya kaya dalam segala hal tetapi juga menjadi negeri miskin di dunia. Di saat negeri lain mencari cari negeri impian ini, bangsa kita ikut-ikutan bermimpi. Padahal kita tidak sedang tidur. Bagaimana mengurai benang kusut permasalahan di negeri penuh solusi ini. Di saat bangsa lain tak memiliki minyak bangsa kita dengan penuh percaya diri menyatakan diri sebagai bangsa yang siap untuk dijajah. Hanya karena rempah-rempah dan weah bangsa kita sempat dijadikan kuli di gudang sendiri demi menghidupi babu negeri bawah laut. 350 tahun lebih bangsa ini menjadi kulinya orang-orang miskin, gelandangan yang berasal dari sebuah negeri yang untuk ndodok saja harus menguras laut.

Terus siapa yang bertanggung jawab untuk semua yang kita hadapi sekarang? Ya tentu saja, kita semua bangsa INDONESIA. Siapa lagi? Apakah masih ada keriduan dalam dirimua untuk menjadi bangsa terjajah kembali. Masihkah kau ingin bernostalgia dengan keterbelengguan jiwa dan raga? Apakah kita belum terbiasa menjadi bangsa yang BEBAS MERDEKA hingga kita tambah bingung harus diapakah kebebasan dan kemerdekaan ini. Harus bagaimana kita hidup sebagai bangsa INDONESIA tanpa arahan dari penjajah. Apakah masih terasa sialu mata ini memandang negeri INDONESIA di pagi hari yang cerah dengan sinar mentari yang indah dan penuh kehangatan. Apakah kita masih rindu untuk saling beradu jotos untuk sesuap nasi di hamparan padi yang telah menguning.

Apakah kita ingin manjadi penjajah menggantikan penjajah untuk menjajah negeri kita sendiri? Masihkah terbersit dalam benakmu untuk mencuri di rumahmu sendiri? apakah kita harus menayakan jawaban yang telah diberikan kepada kita. Kapan bangsa INDONESIA menjadi bangsa INDONESIA kalau kita tetap saja berkutat tak beranjak dari teduhnya rasa kenyamanan yang semu dari sebuah era dimana bangsa ini telah di domestikasi menjadi bangsa yang merasa lezat dengan ketidaknyaman, keterbelengguan, penjajahan dan kekalahan. Bangkitlah INDONESIA ku karena mereka telah pergi ke negerinya dan bersiaplah karena para bangsa miskin dan gelandangan itu telah bersiap-siap ingin kembali menyambangi negeri ini.

 

Make a Comment

Make a Comment: ( 1 so far )

You must be logged in to post a comment.

One Response to “Sekmentasi”

RSS Feed for PMI Comments RSS Feed

jadi inget th ‘98, konvoi dari maguwoharjo sampai alun alun yogyakarta..
udah hampir 10 th.. tapi indonesia masih sama.


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...